Siapakah Aisyah ?
Aisyah adalah anak dari Abu Bakar Ash-Shidiq, putri dari sahabat Rasulullah yang paling dicintainya. Berasal dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ia lahir ketika islam mulai memancarkan cahaya terang dan diasuh oleh ayahnya sejak kecil. Menurut riwayat, ibunya bernama Ummu Ruman bintu ‘Amir bin ‘Uwaimir bin ‘Abdi Syams bin ‘Attab bin Udzainah al-Kinaniyyah. Akan tetapi, riwayat-riwayat lain mengatakan bahwa ibunya adalah Zainab atau Wa’id binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams. Aisyah adalah wanita yang pertama kali masuk islam. Seorang wanita cantik berkulit putih yang mendapat sebutam al-Humaira.
Setelah pertempuran Badr, Rasulullah menjemput Aisyah berniat untuk menikahinya, memasuki rumah tangga yang dipenuhi cahaya. Tidak ada istri Rasulullah yang dinikahinya dalam keadaan masih gadis kecuali Aisyah ra.
Sepeninggal wafatnya Khadijah selama 2 tahun, datang wahyu dari Allah SWT kepada rasul untuk menikahi Aisyah. Kemudian rasul berkata kepada Aisyah;
“Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutera seraya berkata, ‘Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Jika ini benar dari Allah, niscaya akan terlaksana.”
Mendengar kabar itu, Abu Bakar sangat bahagia. Ditambah lagi ketika nabi Muhammad setuju untuk menikahinya. Lalu beliau mendatangi rumah mereka (Aisyah dan Abu Bakar) kemudian berlangsunglah pertunangan yang penuh barokah itu. Seusai pertunangan, rasul melakukan hijrah ke madinah bersama para sahabat. Tetapi istri-istrinya tetap berada di mekah. Setelah rasul berada dimadinah, beliau mengutus orang untuk menjemput istri-istrinya termasuk Aisyah. Namun karena cuaca buruk, Aisyah mengalami penyakit keras, sehingga berat badannya menyusut drastis seperti kaum muhajirin. Melihat keadaan itu lalu rasul berdoa kepada Allah:
“Ya Allah, jadikanlah kami sebagai orang yang mencintai Madinah sebagaimana cinta kami kepada Mekah, atau bahkan lebih lagi. Sembuhkanlah penghuninya dari penyakit. Berikanlah keberkahan kepada kami dalam timbangan dan takarannya. Lindungilah kami dari penyakit, dan alihkanlah penyakit itu ke Juhfah.”
Allah lantas mengabulkan doa tersebut. Cuaca pun berangsur membaik. Lalu sembuhlah kaum muhajirin dari penyakitnya, begitu pula dengan Aisyah. Aisyah pun sembuh dan bersiap-siap menghadapi hari pernikahannya dengan rasulullah saw.
Dengan izin Allah menikahlah Aisyah dengan nabi Muhammad saw, dengan mas kawin sebesar lima ratus dirham.
Aisyah adalah istri kedua nabi Muhammad setelah beliau ditinggal wafat dengan istrinya yang pertama yaitu Khadijah. Aisyah adalah sesosok gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan dan kematangan diri. Menumbuhkan syahwat rasul atas pesona-pesona indah dari seorang Aisyah. Sebagaimana ummu salamah berkata, “Rasul tidak bisa menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”
Dari beberapa cerita mengenai istri-istri nabi Muhammad saw, khadijah adalah sosok istri sempurna yang mampu menghangatkan jiwa rasul ketika dalam masa kesusahannya selama 25 tahun. Setelah wafatnya khadijah, kemudian datanglah Aisyah yang kembali menumbuhkan rasa cintanya kepada seorang wanita. Kedudukan Aisyah sangat istimewa.
Di dalam hadist diriwayatkan oleh Anas bin Malik: “Cinta pertama yang terjadi di dalam islam adalah cintanya rasul kepada Aisyah”. Aisyah bukan hanya istri Rasul, tetapi merupakan bintang dilangit sejarah. Terbukti dengan begitu banyak hafalan hadist dari rasulullah dan kepahamannya mengenai fiqih sehingga menjadi rujukan bagi para sahabat rasulullah.
Banyak pula kisah-kisah romantis yang dijalani rasul dengan Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah, bermanja diri kepada Aisyah dan memanggil Aisyah dengan panggilan sayangnya “Humaira”. Rasul juga pernah disisirkan rambutnya oleh Aisyah, dan masih banyak lagi yang menumbuhkan romantika suami istri yang merawat jiwa.
Hal-hal seperti ini tentu penting disampaikan dalam kisah-kisah yang ada. Karena, seperti inilah keindahan rumah tangga yang selalu bisa menumbuhkan rasa romantis dan keharmonisan dalam rumah tangga. Sehingga rasul kuat ketika menyelesaikan misi beratnya, misi peradaban.
Tak jarang, sama halnya seperti istri-istri yang lain. Aisyah juga pernah dilingkupi rasa cemburu terhadap rasul. Ketika rasul ditanya siapakah istri yang paling dicintainya, rasul menjawab “Aisyah”. Lalu ketika rasul ditanya tentang cintanya terhadap khadijah, rasul akan berkata “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Rasul memiliki kecintaan yang berbeda terhadap keduanya tetapi mereka sama-sama memberi pesona kamatangan hati kepada rasulullah. Setelah Khadijah wafat rasul masih memiliki rasa cinta sejatinya kepada khadijah. Khadijah memiliki pesona kematangan jiwa, dari pesona inilah lahir cinta sejati itu hingga beliau berkata “siapa lagi yang dapat menggantikan Khadijah?” tatkala rasa cinta itu masih tersimpan di dalam hati sang rasul sepeninggal wafatnya Khadijah, ketika nama itu pula yang di sebut olehnya. Sehingga Aisyah pun cemburu padanya.
Aisyah adalah segalanya bagi rasul. Wanita agung nan indah penyokong diri, penuh cinta dan kasih sayang, berwawasan tajam, perasa, cerdas dan lembut perangainya. Dialah penyebar kedamaian hati serta penuh rasa kasih sayang. Aisyah bertangan lembut, kasih sayangnya menyejukan hati rasulullah, sungguh imbalan pujian rasul yang disabdakannya, yaitu “wanita adalah “belahan jiwa pria”
NB: By; Rizkiana
Broadcasting '10
Komentar
Posting Komentar