Forget it !*curahan hati seorang RISA (Short Story)

Kenyataan yang paling menyakitkan adalah ketika kita mencoba untuk tidak memperdulikan orang lain karena dia tidak perduli, dan setelah kita melakukan itu, ternyata dia semakain nggak perduli. 

dia nggak menghubungiku lagi, kenapa sih aku selalu melirik ponselku seakan menunggu ponsel itu berdering dan berharap dia meng SMS atau menghubungi? aku nggak mau menghubunginya terlebih dulu, dia seorang cowok! jika dia benar-benar sayang dia akan menghubungiku duluan.*kata-kata melowku.
ok, tadi sore akhirnya aku mengirim SMS untuknya, aku memutuskan untuk menyudahi semuanya. samar-samar aku tahu dia nggak setuju dengan keputusanku yang begitu cepat. dia pikir aku lagi kerasukan atau apa? karena dia membalas SMS ku dan berkata.. "Yakin?" aku merasa direndahkan, seolah-olah aku membuat keputusan itu hanya untuk menggertaknya agar dia mau mengejarku lagi. TIDAK! nggak sama sekali, aku benar-benar emosi. *lebih tepat lagi kalau aku merasa sedih sekarang, gara-gara apapun.  aku yakin lama-kelamaan dia pasti bisa menerimanya. smoga bisa baik-baik saja hubungan kami sebagai manusia. *kalian tahu? aku merasa gelisah sekarang, entah mengapa? 
aku nggak mau menceritakannya lagi lebih mendalam, karena akan membuatnya menjadi lebih nyata! dan itu membuatku sakit, cukup menyakitkan buatku. singkatnya.... aku mengambil keputusan untuk menyudahinya, samar-samar dia belum bisa menerimanya. tapi kami sekarang menjadi begitu dingin, gamang dan asing. aku belum tahu pasti. FORGET IT NOW! FORGET IT! 
*oh ya ampun, aku benar-benar gelisah... kenapa ini? 

by the way, sepertinya ada tetangga baru tadi pagi baru datang. nggak sengaja ketika aku sedang mengerjakan tugas dilaptopku aku mendengar suara mobil berhenti di halaman. aku melongoknya dari arah jendela kamar, terlihat ibu sedang berbincang-bincang dengan seorang wanita yang sepertinya seumuran dengannya, mungkin dia ibu dari ke 2 anaknya yang--ku lihat sedang memindahkan barang menuju ke dalam rumah. 22nya laki-laki, satu lebih tua.... sepertinya seumurku, satunya lagi kira-kira berumur 11 tahun. sepertinya aku akan memiliki teman baru disini, terbersit rasa penasaran dan senang menjalari tubuhku*selamat datang tetangga sebelah :D

Aku turun kebawah, menghampiri ibuku yang kini sedang menyiram tanaman dipekarangan.
"pagi bu".
"pagi sayang, kau sudah sarapan?" 
"belum, nanti saja. hari ini aku libur, Petri tadi menghubungiku kalau pak Josh hari ini berhalangan masuk".
"kesenanganmu pasti, oh iya, kita kedatangan tetangga baru,, kau lihat sana, aku baru berbincang dengan ibunya. kau tahu? dia punya anak lelaki sebaya denganmu" ibu menggodaku.


cowok itu terlihat begitu manis. tanpa ku sadari aku selalu meluncurkan tatapan mataku kearahnya, dia sedang mondar mandir mengangkat barang. ketika aku mendekat ibunya menegurku. aku juga balas menyapa, lalu kami berbincang sebentar. sedikit-sedikit aku melirik kearah cowok itu, tapi sama sekali nggak ada tanda-tanda dia balas menatap. wajahnya terlihat sangat dingin, apakah dia memang karakter cowok cool atau memang judes. aku sulit memprediksinya. Janie, nama ibunya Janie... dia meminta izin padaku ke dalam rumahnya yang baru. barang-barangnya telah selesai diangkut, sepertinya mereka tinggal membereskan di dalamnya. 


kalian tahu? aku akan segera melupakan "dia" yang nggak muncul-muncul lagi di ponselku. sedikti-sedikit aku pancing menghubungi sih,tapi sepertinya dia benar-benar sudah bisa tanpa aku dan berhasil mengabaikan aku. ok , forget it now! forget it.


NB: Aku menulis blog ini dengan perasaan emosi semalam. sedikit merasa kesal karena kenyataannya dia udah nggak mengejarku lagi. aku nggak mau berharap lagi padanya. 


SELAMAT MENIKMATI :D



Komentar