kelas baru Andreas *Curahan Hati seorang RISA (Short Story)

Pagi ini terlihat mendung. semilir angin berhembus melewati ku ketika aku berdiri di trotoar jalan hendak menunggu bus sekolah. bulu kudukku berdiri merasakan dinginnya angin pagi ini. Andreas berdiri di sampingku, basa-basi ku sapa dirinya yang terlihat manis saat itu, "Hai". "Hei, aku tak menyadari itu kau". "ya, kita baru bertemu kemarin di halaman masing-masing, tentu kau tak akan langsung mengingatku dengan baik" kataku dengan penuh senyum. "kau sedang menunggu Bus?" tanyanya. "yeah, aku sedang menunggu bus sekolah, kau?". "hari ini hari dimana aku pertama kali masuk sekolah, semoga tidak merusak hari pertama menjadi siswa baru dengan terlambat masuk kelas" aku tertawa, Andreas tersenyum. kau tahu?  aku melihat senyumnya begitu menawan. beberapa pertanyaan ku sampaikan padanya, dan ternyata Andreas satu sekolah dengan ku. seketika kebahagiaanku nyaris meledak keluar. kenapa aku jadi genit begini? biarlah aku tak perduli karena terlalu membuang waktu jika aku berpikir tentang itu saat ini. ketika masuk Bus ia duduk tepat dibelakang supir, karena bangku yang kosong hanya tinggal di tempat itu. aku langsung menghampiri Petri beserta teman-teman yang lain, duduk di sebelah Petri dengan raut muka ceria. Petri saat itu memandang aneh   ke arahku, menatapku lekat-lekat dengan tampang penuh tanda tanya besar. nggak kebayang, jika aku ingat-ingat lagi lucu sekali tampang Petri seperti itu. aku semakin bahagia membuatnya bingung. :D

tapi aku nggak tega melihat sahabatku bingung dan cemberut karena aku tak menceritakan apa yang terjadi ketika ia sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. aku sempat menggodanya agar Petri terus penasaran hingga ia merasa geregetan padaku. dia benar-benar orang yang memiliki rasa penasaran tinggi terhadap sesuatu yang rahasia. #mau tahu saja urusan orang. ^_^

aku turun bersama Petri--seperti biasa. Andreas masih berjalan sendiri. anak laki-laki yang lain kemana? mengapa tak ada yang mendekatinya? karena dia jalan sendiri,  lantas aku mendekat ke arahnya. saat itu Petri sedang mengobrol dengan Melly, sekretaris pemandu sorak. biarlah, aku tinggalkan dia. Andreas terlihat senang aku temani, tentu aku juga senang menemaninya. sudalah, kenapa aku jadi semakin genit begini.
ternyata kelas kami bersebelahan, kalau boleh jujur aku ingin sekali dia bisa sekelas denganku. tapi ternyata dia mengambil jurusan IPA, kumpulan anak-anak pintar! bagus. sudah tampan, ramah, pintar--aku suka Andreas tetangga sebelah.

NB: hei, kau tahu? rumah kami bertetangga sebelah. dan kelas kami pun juga bertetangga sebelah! ^^


SELAMAT MENIKMATI :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#19

#20